Rabu, 29 Mei 2013

Agama Jain



Responding Paper Agama Jain
Paper ini disusun untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah Agama-agama Minor

Dosen Pembimbing :
 Hj.Siti Nadroh, M.Ag



Disusun Oleh :
Ita Siti Nurhalimah
1110032100012




JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
 FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013



1.      Sejarah dan perkembangan agama jain
Agama jain adalah sebuah agama monastic kuno dari india. Agama ini menolak otoritas weda sebagaimana halnya agama budhha. Agama ini muncul  pada zaman wiracarita yakni masa akhir zaman brahmana, ketika ada perdebatan antara aliran teistis dan non teistis. Menurut Jhon A Hutchison agama inijuga agama budhha  muncul di zaman heresies (zaman pilihan) yang timbul karena dua alasan, yang pertama karena waktu itu orang tidak mengakui adanya otoritas sacral Weda. Kemudian yang kedua yakni pada waktu itu orang menolak batu ujian ortodoksi hindu yaitu apa yang disebut kasta.[1]
Mengenai sejarahnya, Agama Jaina bermakna : agama Penaklukan. Yang dimaksudkan.[2]
Jainisme sndiri mulai diakui keberadaannya di magadha, india utara sekitar abad ke-6 dan ke-5 sebelum masehi pada waktu itu mahavira menyebarkan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu mahavira lebih dikenal sebagai nabi jainisme, bukan penciptanya. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa mahavira dianggap bukan yang paling dulu menyebarkan ajaran-ajaran jainisme tersebut. Namun diakui bahwa diantara sekian banyak tirthankara, Mahavira adalah yang paling akhir turun ke Dunia ini. Sehingga Ialah yang menyampaikan dan menyempurnakan ajaran-ajaran agama jain.[3]
Awal mula dari kemunculan agama jaina ialah ketika mahavira menyaksikan prilaku kasta brahmana  ( Brahmin ) yang banyak melakukan penyelewengan-penyelewengan sehingga membuat dia muak pangeran muda tersebut. Apalgi ketika ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya dalam keadaan lapar padahal mereka hidup dalam kemewahan, itu dilakukan kedua orangnya Karena dalam ajaran hindu mengatakan kematian dalam keadaan lapar  merupakan suatu kematian yang suci ( holy death ). Setelah kedua orang tuanya meninggal itulah dia berkata kepada saudaranya :
 “ saudara, untuk berkabung atas kemangkatan ibu-bapak kita, saya berkehendak mengangkat sumpah bahwa dua belas tahun lamanya saya akan mengabaikan tubuh menahankan bencana apapun yang datang dari kodrat-kodrat gaib maupun manusia atau-pun hewan “. ( SBE. 22-200 ).
            Mahavira melakukan perjalanan mengembara sebagai seorang kafir, dan bersumpah “ dalam masa 12 tahun terhitung mulai dari saat ini saya tidak akan mengucapkan sepatah katapun“. Dari sumpah itu dia mendapatkan banyak pelajaran, diantaranya dia itu lebih baik dari kata. Mahavira juga tidak membenarkan membunuh apa-apa yang bernyawa. Kemudian ajaran-ajarannya banyak didukung oleh kalangan raja-raja karena salah satu ajarannya adalah tidak boleh menyakiti benda-benda yang mempunyai ruh tetapi telah mewajibkan rakyat agar taat dan setia kepada orang yang memerintah, barang siapa yang melanggar atau menentang akan disembelih kepalannya. Apalagi seruannya mengandung sesuatu yang membayangkan isi hati mereka dalam menentang golongan brahmana. Penyebaran hasil pemikirannya disebar melalui padato-pidato dan ceramah-ceramah diberbagai kota di india. Dari perjalanannya itu kemudian pengikut jaina lebih kurang satu juta orang dan semuanya berada di india seperti agama hindu, pada keseluruhannya tata sosial dan pendidikan mereka bersifat tinggi. Sumber-sumber suci dikalangan para pengikut jaina adalah pidato-pidato mahavira yang dikumpulkan bersama-sama dan dijilid menjadi suatu sumber hukum. Sehingga disetujui bahwa bahasa kepustakaan  suci ini adalah suatu bahasa yang dinamakan “ Ardha Majdi “. Tatkala timbul niat untuk menjaga dan menyusunnya, maka digunakan bahasa sanskerta. Kitab tersebut berisikan tentang pesan-pesan dan sumber hukum dari para pengikut agama jaina. Kitab suci Jaina yaitu “Siddahanta” yang bermakna perintah, ajaran, bimbingan. Kitab suci ini terdiri ari 12 buah Angas (Bab).[4]
Ia mulai melakukan meditasi dan merasakan kesengsaraan hidup dengan tujuan mencapai kebebasan tuntas. Pada tahun ke 13 dari masa pertapanya, ia berhasil memperoleh pengetahuan agung yang disebut kevala dan berhasil memasuki nirwana pada usia 72 tahun di kota Pavapuri, juga di Behar. Sejak saat itu kota Pavapuri menjadi pusat ziarah para penganut agama Jain. Hari peringatan tahunan pencerahan agama Hindu, yang disebut Diwali, dijadikan hari ziarah di kota tersebut, karena diduga pada hari itu pula Mahavira berhasil mencapai nirwana. Dalam kuil utama agama Jain di kota ini ditemukan cap-cap kaki Mahavira yang dianggap sakral.[5]
2.Perkembangan Jainisme
Agama jinisme dikenal di Asia Selatan (India) dan disebarkan oleh Vardamina (546 SM) yang berasal dari keluarga yang  sangat berkuasa pada masanya. Vardamina selama dua belas tahun hidup menjadi anggota masyarakat pertapa yang bernama Nirgrantha. Pada tahun ke-13 dalam pengembaraannya Vardamina mendapatkan ilham atau wahyu penerangan tentang hakikat Tuhan yang Maha Tahu, yang mengerti akan segala sesuatu yang ada di jagad raya ini baik yang tersembunyi maupun yang nampak. Dan pada selama tiga puluh tahun kemudian Vardamina menyiarkan agamanya. Dan setelah Vardamina Mahavira meninggal aliran jainisme pecah menjadi dua yaitu Svetambara (memakai jubah putih) dan Digambara (berpakaian langit atau telanjang) perpecahan tersebut terjadi Sekitar tahun 310 SM yakni lebih kurang tiga abad sepeninggal Mahavira. Perpecahan itu disebabkan musim paceklik di India utara. Sejumlah 12.000 orang dari jemaat jaina itu dibawah pimpinan Badhrabahu, melakukan perpindahan menuju ke belahan selatan India, berdiam dan menetap dalam wilayah Mysore. Dengan begitu jemaat terpecah menjadi dua, yaitu belahan utara dan belahan selatan. Belahan utara beriklim dingin dan be;lahan selatan beriklim panas. Di dalam wilayah yang beriklim panas itu, pakaian tidak diperlukan. Sedangkan di belahan utara lebih mengutamakan bertarak dan bertapa tetapi perpecahan itu belum resmi.
Kemudian Sekitar tahun 82 Masehi perpecahan itu menjadi resmi dan disebabkan masalah pakaian. Jemaat yang mendiami di belahan utara pegunungan vindaya selalu mengenakan pakaian putih, dan jemaat ini yang disebut dengan sekte svetambara (jemaat berpakaian putih). Sedangkan jemaat yang mendiami di belahan selatan pegunungan vindaya tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun karena beriklim panas. Jemaat itu disebut dengan digambara (jemaat bertelanjang bugil bagaikan langit).
Masalah pakaian itu lantas menjadi masalah keagamaan yang meruncing sangat tajam antara kedua sekte. Sekte digambara itu beralaskan sikap hidup Mahavira didalam pengembaraannya, yang tidak peduli terhadap kebutuhan duniawi. Tetapi sejak abad ke 7 M, yakni semenjak anak benua India itu berada dibawah kekuasaan islam. Maka jemaat digambara mulai dipaksakan mengenakan pakaian, setidaknya mengenakan celana dalam.
Selain itu Persentuhan agama Jaina dengan agama Islam juga menjadi bagian dari perkembangan agama jain. Persentuhan keduanya pada anak benua India itu lambat laun menimbulkan pengaruh dalam lingkungan agama Jaina itu. Pada tahun 1474 M lahir suatu sekte baru, yaitu Stanavaksi. Ini muncul dari lingkungan sekte Svetambara pada belahan India Utara. Sekte ini merupakan gerakan reformasi dalam agama Jaina, yakni gerakan pembaharuan. Mereka berusaha mendalami dan menyelidiki kitab suci Siddanta (agama) itu, lalu memisahakan angas yang dapat dipandang otentik dan angas yang dipandang susunan pada masa belakangan. Di dalam angas yang dipandang otentik itu tidak dijumpai pemujaan terhadap patung dan berhala. Justru kuil-kuil yang menjadi milik jemaat Sthanavaksi itu, sampai kepada masa sekarang ini, tidak berhiaskan patung apapun juga.[6]
3.Ajaran dan praktik kegamaan
A.Kitab Suci
sumber-sumber suci dikalangan para pengikut agam jaina adalah pidatdo-pidato mahavira. Kemudian pidato-pidato mahavira ini diteriam oleh para pengikutnya seperti para murid-muridnya,orang-orang arif,pendeta-pendeta dan para ahli ibadah. Sumber kepustakaan suci ini diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan. Lalu dikarenakan takut ajaran-ajarn ini hilang dan bercampur dengan ajaran-ajaran yang lain maka pada abad ke-4 SM namun ada juga yang menyebut pada130 SM, para penganut jaina mengadakan pertemuan dibandar patli putra, untuk mengumpulkan naskah-naskah suci untuk dijilid manjadi satu. Dan kemudian kitab suci ini diberi nama siddhanta, yang menjadi ajaran pokok agama jaina. Dan bahasa yang digunakan dalam kitab ini adalah bahasa ardha majdi atau prakit. Namun bahasa tersebut hanya digunakan pada abad-abad sebelum masehi, setelah masehi untuk menjaga isinya kitab tersebut diganti bahasanya menjadi bahasa sansekerta.[7]
Sedangkan kitab siddhanta sendiri terdiri dari 12 anggas sebelumnya, semua itu adalah himpunan yang terdiri dari pidato-pidato mahvira. Namun anggas yang kedua belas telah lenyap sampai kini,tidak bisa diketemukan lagi. Namun tentang jumlah anggas seluruhnya, yang merupakan bagian dari kitab suci dijumpai perbedaan pendirian diantara sekte-sekte didalam agama jaina itu. Seperti sekte digambara mengakui ada 80 anggas dari bagian kitab suci agama jaina sedangkan sekte swetambara mengakui hanya 45 anggas saja. Sedangkan gerakan reformasi agama jaina hanya 33 anggas saja.[8]
B.System kepercayaan agama jain
1.      Konsepsi tentang tuhan
Agama jain atau jainisme menolak adanya tuhan yang dianggap sebagai pencipta atau penguasa dunia ini. Walaupun demikian menurut hut chison, paham jainisme tidak termasuk atheis, melainkan disebut non-teisme. Penyebutan ini didasarkan pada corak paha agama tersebut tentang apa yang disebut tuhan. Agama jain mengakui keberadaan apa yang disebut sang “Maha Kuat”, namun mengatakan bahwa sang maha kuat tersebut termasuk pula manusia, semuanya terbelenggu dalam alam dosa dengan sedikit atau tanpa ada kesempatan untuk melarikan diri darinya.[9]
2.      Konsepsi tentang alam
Jainisme menganut filsafat dualisme, yaitu membagi alam saemesta ini menjadi dua kategori: zat yang hidup (jiva) dan zat yang tidak hidup (ajiva). Ajiva memiliki lima substansi yaitu benda (pudgala), dharma, adharma, ruang (akasa) dan waktu (kala). Unsure jiva dan keenam unsure ajiva tersebut disebut denga enam dravya.
Menurut agama ajarang agama jain substansi jiva dan ajiva adalah kekal, tidak diciptakan, tidak ada permulaan dan tidak berakhir. Atau dengan kata lain tidak ada sebab pertama yang menyebabkan terjadinya substansi-substansi tersebut.
Kemudian selain pembagian menurut kedua kategori tersebut, maka dari sudut pandang lain berbeda, substansi-substansi tersebut lebih lanjut diklasifikasikan menjadi dua yakni astikaya dan nastikaya.[10]
Menurut kosmologi jainisme alam semesta ini adalah abadi, alam semesta ini bergerak melalui satu lingkaran terus-menerus dari stau tempat yang ideal menuju kearah titik bawah lalu dilanjutkan menaik lagi melalui titik atas dan begitu seterusnya. Menurut agama jain alam semesta ini bergerak bukan karena adanya tuhan melainkan bergerak secara mekanistis belaka.[11]
3.      Konsepsi tentang karma
Menurut jainisme karma adalah energy jiwa yang dengan energy itu menyebabkan penggabungan jiwa dan benda dan kekotoran berikutnya dari jiwa itu. Menurut jain karma bisa dibersihkan, prose pembersihan karma disebut dengan nirjana, jika proses nirjana ini berjalan terus tanpa rintagan maka pada akhirnya semua karma akan tercabut dari jiwa dan akan mencapai tujuan utama hidup.[12]
Tujuan utama dari orang Jain adalah menjadi seorang Paramatman, satu jiwa yang sempurna. Ini akan dicapai ketika semua lapisan karma, yang dianggap sebagai substansi, dibuang, yang memungkinkan jiwa muncul ke atas sampai di langit-langit alam semesta, dari kegelapan kepada cahaya, dimana, di luar Dewa-dewa dan perpindahan jiwa yang sedang terjadi, jiwa tinggal selamanya dalam kebahagiaan yang sunyi dari moksha. Moksha didefiniskan dalam Agama Jain sebagai pembebasan, penyatuan diri (self-unity) dan integrasi, kesendirian yang murni dan ketenangan yang abadi, bebas dari tindakan dan keinginan, bebas dari karma dan kelahiran kembali. Moksha dapat dicapai dalam hidup ini atau pada waktu setelah mati. Ketika ia dicapai, manusia telah memenuhi tujuannya sebagai manusia-Tuhan (man-God). Bagi agama Jain tidak ada Tuhan pencipta dan, karena itu, tidak ada persatuan dengan Tuhan. Hakikat dari jiwa adalah kesadaran murni, kekuatan, kebahagiaan dan maha tahu.[13]
4.      Pandangan tentang pencerahan
Menurut agama jain jiwa yang telah mencapai kesempurnaan atau pencerahan menyebabkan pemiliknya mencapai tingkat kesalehan dan kesempurnaan dari luar. Sebagai contoh para tirthankara yang kesemuanya telah diakui berhasil mencapai kesempurnaan itu. Kemudian orang yang telah mencapai kesempurnaan jua akan dapat menikmati empat macam atribut yakni persepis yyang tak terbatas, pengetahuan yang tak terbatas, kekuatan yang tak terbatas dan kebahagiaan yang tak terbatas. Kesempurnaan jiwa seperti ini dapat dirasa ketika dia amsih hidup atau sudah mati.[14]
5.      Tentang Epsitemologi
Dalam aspek epistemologi, jaina menolak pandangan carvaka bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Jika kita menolak kemungkinan memperoleh pengetahuan benar melalui inferensi dan testimoni orang lain, kita semestinya meragukan validitas persepsi, karena sekalipun persepsi kadang-kadang bisa bersifat ilusi. Padahal carvaka sendiri memakai inferensi (anumana) ketika mengatakan bahwa semua inferensi adalah invalid, dan juga ketika mereka menolak eksistensi objek-objek karena mereka tidak dilihat. Disamplng persepsi, jaina menerima inferensi dan testimony (sabda) sebagai sumber pengatahuan valid. Inferensi menberikan pengetahuan valid ketika ia mengikuti kaidah-kaidah logis yang tepat. Testimoni valid ketika ia merupakan laporan otoritas terpercaya. Atas otoritas ajaran-ajaran orang-orang sucu yang telah terbebaskan (jaina atau tirthankara) orang-orang pengikut ajaran ini mendapatkan pengetahuan yang benar yang tidak dapat diperoleh oleh orang yang masih terbatas. Testimoni Tirthankara ini tidak diragukan lagi ke-validan-nya.[15]
6.      Jaina percaya dengan pluralisme roh; terdapat roh-roh sebanyak tubuh hidup yang ada. Tidak hanya roh dalam binatang, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan bahkan dalam debu. Hal ini juga diterima dalam ilmu pengetahuan moderen. Semua roh tidak secara sama memilki kesadaran, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Semaju apapun indria-indrinya, roh terbelenggu dalam pengetahuan y6ang terbatas; juga terbatas dalam tenaga dan mengalami segala jenis penderitaan.Tetapi setiap roh mampu mencapai kesadaran tak terbatas, kekuatan dan kebahagian. Mereka dihalangi oleh karma, seperti matahari dihalangi oleh awan. Karma dapat menyebabkan belenggu roh. Dengan menyingkirkan karma roh dapat memindahkan belenggu dan mendapatkan kesempurnaan alamiah.[16]
 Tiga cara menyingkirkan belenggu, yaitu keyakinan yang sempurna dalam ajaran-ajaran guru-guru jaina, pengetahuan benar dalam ajaran-ajaran tersebut, dan perilaku yang benar. Perilaku benar terdiri atas praktek tidak menyakiti atau melukai seluruh makhluk hidup, menghidari kesalahan, mencuri, sensualitas, dan kemelakatan objek-objek indriya, mengkombinasikan ketiganya di atas, perasaan akan dikendalikan dan karma yang membelenggu roh akan disingkirkan. Lalu, roh mencapai kesempurnaan alamiahnya yang tak terbatas, pengetahuan tak terbatas, dan kebahagian yang tak terbatas. Inilah keadaan miksa menurut ajaran jaina. Hal ini telah dibukatikan oleh guru-guru dalam tradisi jaina atau Tirthankara. Mereka memperlihatkan jalan menuju moksa.[17]
7.      Tentang Metafisika
Di dalam aspek metafisikanya, jainisme mengambil posisi realistik dan pluralism relativistik. Ia disebut atau doktrin pluralistik realitas. Material dan spirit dipandang sebagai realitas-realitas yang independen dan terpisah. Terdapat atom-atom material yang tak terhitung jumlahnya dan roh-roh individu aspek-aspek dirinya yang juga tak terhitung jumlahnya. Sebuah benda mempunyai karakteristik yang tak hingga jumlahnya . setiap objek mempunyai karakter positif dan negative yang tak terhitung jumahnya. Adalah tak mungkin bagi manusia biasa untuk mengetahui semuanya itu. Kita hanya tahu sebagian kecil saja.
Praktek Keagamaan dalam Jainisme
A.    Asketisme
Menurut jai nada dua motif melakukan kehidupan asketik, pertama bahwa kehidupan asketik dianggap sebagai salah satu macam atletikisme spiritual yaitu latihan spiritual para atlit menjelang pertandingan. Kedua, bahwa kehidupan asketik itu menempatkan prinsip serba dua antara materi dan spirit (jiwa). Alu mencari cara untuk membebaskan jiwa yang terkurung dalam daging.
Jainisme sangantmementingkan asketisme. Hal ini diandaikan sebagai perjuangan mahavira untu memperoleh pengetahuan agungng. Karena itu sifat asketik jainisme menjadi bgitu kstrim dan ketat.
B.     Etika penganut agama Jain
Masyarakat jainisme terdiri atas pendeta, biara dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik. Sementara dalam kasus orang umum hal itu bisa di modifikasi. Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta). Kelima sumpah tersebut adalah (1) ahimsa (non kekerasan), (2) satya (kebenaran di dalam pikiran), (3) asteya (tidak mencuri), (4) brahmacharya (berpantang dari pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan), dan (5) aparigraha (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam halo rang umum, aturan ini bisa di modifikasi dan disederhanakan.[18]
Untuk orang awam ada 12 atauran yang semula berasal dari aturan pendeta. Keduabelas aturan tersebut adalah
1.      Tidak pernah menyengaja melenyapkan kehidupan dari makhluk ang berorgan indra
2.      Tidak pernah berbohong
3.      Tidak mencuri
4.      Tidak berzina
5.      Tidak tamak
6.      Menghindari godaan-godaan
7.      Membatasi jumlah barang yang dipakai sehari-hari
8.      Menjaga hal yang berlawanan dengan usaha untuk menghindari dari kesalahan-kesalahan
9.      Menjaga periode-periode meditasi yang telah dicapai
10.  Mengamati periode-periode penolakan diri
11.  Memanfaatkan periode-periode kesempatan menjadi pendeta
12.  Member sedekah
Umat awam juga memegag prinsip ahimsa, dengan melakukan diet vegetarian dan selanjutnya melarang diri makan telor.
                                             




























[1] Ali, Mukti, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN SUNAN KALI JAGA PRESS, 1988)h, 151
[3] Ali, Mukti, Agama-agama di Dunia, h. 15153

[4] Muhammad Mardiansyah, Agama Sikh Dan Jain, diakses pada tanggal 21 maret, dari http://ardiceper.blogspot.com/2012/05/agama-sikh-dan-jain.html
[5] Mukti Ali, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: Hanindita offset, 1988, cet l, h. 151-152
[6] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Di Dunia, h 140-141


[9] Ali, mukti, agama-agama di Dunia, h.15158-159
[10] Ibid, h. 162-163
[11] Ibid. h. 164
[12] Ibid, h. 164-166
[13] http://www.iloveblue.com/agama-jain/
[14] Ali, mukti, Agama-agama di Dunia, h. 167-169
[15] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, (Denpasar: Mabhakti, 2003), h 315-16
[16] Ibid, h. 18
[17] Ibid, h. 320
[18] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 319.

Senin, 27 Mei 2013

Agama Zoroaster



Responding Paper Agama Zoroaster
Paper ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Agama-agama Minor
Dosen Pembimbing:
Hj.Siti Nadroh M.ag
Oleh :
Ita Siti Nurhalimah
1110032100012







JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
A.    Sejarah dan Perkembangan
Agama Zoroaster diambil dari nama pendirinya yaitu Zarathustra (660-583 SM). Agama itu mulanya tumbuh di wilayah Azarbaijan sebelah utara Iran. Oleh karena beroleh tantangan dari bangsanya di wilayah tersebut, maka Zarathustra berangkat menuju Balkh, ibukota wilayah Baktria di Asia Tengah. Di depan balai penghadapan raja Kavi Vishtaspa, di dalam suatu dialog agama, ia berhasil menundukkan kaum Majus, hingga sang Raja dan keluarga istana memeluk agama Zoroaster dan mengumumkannya sebagai agama resmi di dalam wilayah Baktria.
Raja-raja dari dinasti Achaemenids itu adalah penganut agama Zoroaster sampai kepada Raja Darius III (336-331 SM). Pada masa raja inilah, imperium Persi itu ditaklukkan oleh Alexander The Great (356-323 SM) dari Macedonia dan kemudian berlangsung Hellenisasi secara intensif di seluruh wilayah Iran.
Sejarah raja-raja Achaemenids itu semenjak pertumbuhan kekuasaannya sampai pada masa tumbangnya terbagi atas tiga tahap, yaitu:
1)      Tahap masa 600-550 SM, yaitu dalam masa 150 tahun merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan agama Zoroaster, terdiri atas raja Hystaspes, raja Cyrus I, dan raja Cambyses I.
2)      Tahap masa 550-486 SM, yaitu dalam masa 65 tahun merupakan masa perluasan kekuasaan dan perluasan pengaruh agama Zoroaster, terdiri atas raja Cyrus II yang digelari “the great” (550-530 SM), raja Cambyses II (530-521 SM) dan raja Darius I (521-486 SM). Pada masa inilah penaklukan Babilonia, Assyria, Asia Kecil, Palestina, dan peperangan terjadi terus menerus dengan penguasa-penguasa semenanjung Grik dan dengan raja-raja Pharao dari tanah Mesir.
3)      Tahap masa 486-331 SM, yaitu dalam masa 156 tahun merupakan masa sengketa yang terus menerus dengan pihak Grik, terdiri atas raja Xerxes I (486-465 SM), raja Artaxerxes I (465-424 SM), raja Xerxes II (424 SM), raja Darius II (424-404 SM), raja Artaxerxes II (404-358 SM), raja Artaxerxes III (358-338 SM), dan raja Arses (338-336 SM), dan raja terakhir Darius III (336-331 SM). Pada masa terakhir inilah Alexander The Great dari Macedonia dengan kesatuan kekuatan Grik seluruhnya menaklukan Asia Kecil, Syria, Palestina, Mesir, dan seluruh wilayah belahan timur sampai Asia Tengah dan anak benua India.
Di dalam wilayah yang luas itu berlangsung Hellenisasi, pemaksaan kebudayaan Grik, mitologi Grik, beserta filsafat Grik, dan pada anak benua India meninggalkan jejaknya pada seni pahat patung. Dengan berlangsungnya Hellenisasi sekitar 5 abad waktunya dalam dunia Iran,di bawah dinasti Seleucids (248-226 SM), dam dinasti Arsacids, maka bahwa Iran Tua lenyap dari pergaulan sehari-hari dan digantikan oleh Pahlevi Tua, yaitu perpaduan bahasa Grik dengan bahasa Iran.
Sementara itu, mitologi Grik yang memuja Dewa Zeus, yang melambangkan dewata Matahari itu, beserta pemujaan dewa-dewa lainnya, lantas diserap oleh masyarakat hingga agama Zoroaster yang asli dan yang menganut monoteisme digantikan oleh aliran-aliran Mazdaism, Mithraism, dan Machaenism.
Aliran-aliran itu berkembang dan menjadi anutan rakyat umum dari abad kea bad sampai kepada masa pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan nasional Iran kembali, yaitu dinasti Sassanids (226-641 M). Yang lebih berpengaruh di antara aliran itu adalah Mazdaism yang lambat laun dikenal dengan Agama Majusi, karena upacara-upacara kebaktian dilaksanakan melalui para pendeta kuil yang dipanggilkan dengan kaum Majusi.
Pada tahun 641 M itu adalah masa pemerintahan Koshtu Yezdegird III (634-641 M), kekuasaan Sassanids di tanah Iran itu ditumbangkan oleh kekuasaan Islam, yakni pada masa pemerintahan Khalif Umar ibn Khattab (634-644 M). Aliran-aliran yang tersebut diatas, merupakan perkembangan terakhir dari Agama Zoroaster sepanjang sejarahnya yang dekat dua belas abad lamanya, lantas terdesak oleh pengaruh agama Islam di tanah Iran.[1]
B.     Sejarah Pendiri Agama
Sebelah utara tanah Iran, di dalam kota Azarbaijan, tinggal seorang lelaki bernama Porushop Spitama, dari suku Spitama, bersama istrinya Dughdova yang molek jelita dan masih berusia 15 tahun. Dewasa itu, lebih kurang pada tahun 660 SM, Dughdova yang belum dijamah suaminya itu melahirkan seorang putra dan diberi nama Zarathustra.
Kelahiran bayi itu konon telah dinubuatkan sejak 3000 tahun sebelumnya, (SBE, 5:21, 47:31-34; 47:135-138). Ahura Mazda telah menitiskannya ke dalam rahim seorang gadis yang masih perawan”, (SBE, 47:17-18) dari suatu “nur abadi, yang terpadu di dalam rahim ibu Zarathustra” yang masih berusia 15 tahun itu. Peristiwa itu menimbulkan keheranan di dalam lingkungan keluarganya dan dianggap perbuatan sihir (SBE, 47:18-20).
Zarathustra sewaktu masih kecil diceritakan sangat cerdas dan tangkas bicara hingga teman-temannya amat menaruh segan kepadanya. Ketika berusia 15 tahun, ia telah memperoleh costi (ikat pinggang) sebagai tanda lulus pelajaran keagamaan. Tetapi ia tidak merasa puas dengan keyakinan dan upacara keagamaan yang dipelajarinya itu. Menjelang usia 20 tahun, ia suka mengembara kesana kemari sambil memberikan bantuan kepada orang-orang yang malang dan melarat. Dalam usia 20 tahun, ia pun dikawinkan oleh ibu bapaknya dengan seorang gadis yang bernama Havivi.
Masa 10 tahun berikutnya dijalaninya dengan kegelisahan di dalam jiwanya. Ketika usia 30 tahun terjadilah titik balik yang menentukan. Pada suatu hari, ia berkata kepada istrinya: “Saya akan pergi berkhalwat untuk memperoleh ketentraman pikiran. Saya berharap akan dapat menemukan sumber penderitaan di dunia ini”, dan ia pun pergi berkhalwat di dalam sebuah gua pada Gunung Sabalan dan disitulah ia mendapat pencerahan dan ilham dari Ahura Mazda.
Diceritakan bahwa disitulah dia memperoleh jabatan kerasulannya dengan turunnya sebuah ayat, (SBE, 31:10-11), berbunyi:
C.     Ajaran dan Praktek Keagamaan
1)      Kitab Suci
Kitab suci dalam agama Zoroaster adalah Avesta, berasal dari akar kata Avistak, yang berarti Bacaan. Sedangkan pengertian lanjutan dari Avesta itu bermakna pengetahuan, sebagaimana Veda, kitab suci agama Brahma di India. Sebagaimana Alkitab, yang merupakan himpunan kitab suci agama Yahudi itu terdiri atas 36 kitab, yang oleh dunia Kristen disebut dengan Perjanjian Lama, maka kitab suci Avesta itu dulunya terdiri atas 21 buah kitab. Tetapi kini hanya tinggal 5 buah kitab saja, yaitu Yasna, Vispered, Vendibad, Yasht, dan Khorda Avesta.[2]
·         Kitab Yasna
Berisi himpunan nyanyian pujian untuk keperluan kebaktian yang terdiri dari 72 buah haiti (pasal) dan semuanya terbagi atas tiga bagian:
1.      Bagian Pengantar, yaitu pasal 1-27 tentang minuman suci yang disebut Hooma, yang sebutan lengkapnya Hooma Yasht. Pasal 12 berisikan bunyi pengakuan keimanan dan merupakan dokumen bernilai dalam sejarah peradaban.
2.      Gatha adalah pasal 28-54 yang berisikan bimbingan dan tuntunan, wahyu terpanjang kepada sang Nabi. Gatha itu terbagi kepada lima buah anak bagian, yaitu pasal 28-54, pasal 35-46, pasal 47-50, dan pasal 35-42 yang disebut haptan-haiti, berisikan tujuh buah sisipan Yasna, nyanyian keagamaan. Gatha inilah yang dipandang paling utama sekali di dalam keseluruhan kitab suci Avesta, karena masih memperlihatkan ungkapan-ungkapan tua menuruti gaya bahasa Iran Tua.
3.      Apero Yasno, adalah pasal 55-72 yang berisikan himpunan nyanyian pujaan terhadap kodrat-kodrat gaib, terdiri atas:
a)      Sraosha Yasht, pasal 57.
b)      Pujaan terhadap api, pasal 62.
c)      Pujaan terhadap air, pasal 63-69.
d)     Pujaan terhadap kodrat-kodrat lainnya.
·         Kitab Vispered
Bermakna kodrat-kodrat terkemuka (Vispe ratave), berisikan pembahasan tentang kodrat-kodrat gaib yang dipandang paling terkemuka dan kesemuanya itu tunduk kepada Kodrat Tunggal Maha Bijaksana  (Ahura Mazda). Kitab ini pun berisikan himpunan nyanyian permohonan, dan merupakan kitab kecil tentang kebaktian, terdiri atas 24 buah anak pasal. Isi dan bentuknya mirip dengan Yasna dan merupakan kitab kebaktian tambahan.
·         Kitab Vendidad
Berisikan hukum-hukum agama yang terdiri atas 22 buah bab. Bermula dari kejadian alam yang dualistic, dan kejadian manusia pertama bernama Yima. Kemudian, disusul oleh 20 bab tentang kumpulan hukum-hukum agama dalam berbagai masalah. Seluruh hukum-hukum yang termuat di dalam Kitab Vendidad itu berpangkal seluruhnya pada sebuah doktrin yang paling pokok, yaitu: perang terhadap Angro Mainyu dan seluruh kodrat-kodrat jahat, di dalam pelaksanaan kebaktian terhadap Ahura Mazda.
·         Kitab Yasht
Berisikan  kumpulan nyanyian keagamaan kepada para Izad, yaitu kodrat-kodrat gaib yang termulia, terdiri dari 21 buah nyanyian pujian, merupakan kumpulan tambahan bagi kitab Yasna. Pasal 9-10 berisikan sajak agamawi bermutu tinggi peninggalan Iran Tua, terpandang Yasht terbesar, kaya dengan kisah-kisah keagamaan dan sejarah. Pasal-pasal lainnya berisikan kisah-kisah penuh corak dan warna tentang ahuras dan daevas disertai kisah-kisah yang berisi kiasan. Bab yang dipandang paling penting dari seluruhnya adalah Yasht ke XIX berisikan kisah tentang nabi terbesar dari Iran, Zarathustra, beserta ajarannya tentang akhir alam semesta dan tentang peradilan terakhir dari Ahura Mazda.
·         Kitab Khorda Avesta
Berisikan kumpulan nyanyian agamawi berbentuk singkat, untuk digunakan oleh seluruh orang beriman di kalangan awam, di dalam kebaktian sehari-hari.[3]

2)      Keyakinan terhadap Ahura Mazda
Jadi, keimanan yang paling pokok di dalam agama Zoroaster itu adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda, terhadap Kodrat Maha Tunggal dan Maha Bijaksana. Di dalam sebuah nyanyian keagamaan yang termuat pada bagian Gatha di dalam kitab Yasna dijumpai bait yang berbunyi:
From Him, that world has emanated,
His guiding spirit is the Holy Spirit.
(Dari Dia, alam semesta berasal.
Rohnya yang membimbing adalah Rohul kudus).[4]

3)      Keyakinan terhadap Spenta Mainyu
Ahura Mazda itu, selain menciptakan alam, juga menciptakan kodrat-kodrat rohani yang dipanggil dengan Mainyu. Kodrat-kodrat rohani itu terbagi menjadi dua golongan: Spenta Mainyu dan Angro Mainyu. Spenta Mainyu bermakna Mainyu yang baik, dan Angro Mainyu bermakna Mainyu yang angkara.
Para pengikut Spenta Mainyu dari lingkungan kodrat-kodrat rohani itu dipanggil dengan ahuras, dan para pengikut Angro Mainyu dari lingkungan kodrat-kodrat rohani itu dipanggil dengan daevas.
Spenta Mainyu menempati kedudukan tertinggi dan termulia, terdiri atas enam kodrat rohani, satu persatunya memegang fungsi khusus, yaitu: Vohu Manah, perlambang ingatan yang baik dan menempati kedudukan sebagai utusan Ahura Mazda dan Asha, perlambang ketertiban dan keadilan; dan Kshatra, perlambang kesucian dan welas-asih; Haurvatat, perlambang kesentosaan dan kemakmuran; dan Ameretat, perlambang keabadian. Keenam Spenta Mainyu itu disebut Amesha Spenta atau Amshapands.
4)      Keyakinan terhadap Angro Mainyu
Sebutan daevas dijumpai 66 kali di dalam kitab suci Avesta pada bagian Gatha, yakni bagian yang dipandang paling tertua dan masih memiliki ungkapan-ungkapan bahasa Iran Tua. Sebutan Angro Mainyu, sebagai kodrat yang angkara murka, hanya dijumpai dalam ayat-sisipan, yaitu di dalam Yasna, 45:2.
Hal serupa itu berulang kali dinyatakan di dalam ayat-ayat lainnya di dalam kitab suci Avesta itu. Akan tetapi, Zend-Avesta, yang berisikan penafsiran Avesta, membuat ajaran Zarathustra yang monotheis berubah menjadi dualistik yang menempatkan Angra Mainyu itu sebagai kodrat yang sama kedudukannya dengan Ahura Mazda. Penglukisan tentang Hari Peradilan Terakhir itu di dalam kitab suci Avesta memperlihatkan bahwa Angro Mainyu itu disamakan kedudukannya dengan makhluk lainnya, dan harus mempertanggung-jawabkan segala tindakannya di hadapan Ahura Mazda.[5]
5)      Ajaran Pokok Agama Zoroaster
Ø  Manusia
Bagi agama Zoroaster peran manusia di dunia, yaitu bekerja sama dengan alam serta menjalani kehidupan yang saleh dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik. Di dunia, manusia memiliki kewajiban untuk hidup berumahtangga dengan memiliki istri dan anak. Semakin banyak manusia, semakin baik karena akan semakin mudah mengalahkan Ahriman.
Ø  Etika
Inti ajaran Adhurbadh bin Mahraspand adalah “Hiduplah dengan baik dan menjadi orang yang berguna, berilah perhatian kepada sesama, laksanakan kewajiban-kewajiban agama, garaplah tanah, hiduplah berkeluarga dan didiklah anak-anak sehingga menjadi terpelajar. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah pendahuluan bagi hidup di hari nanti. Dan roh orang yang meninggal akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikerjakannya di dunia.”
Ø  Peribadatan
waktu ibadah orang-orang Iran zaman dulu adalah ketika matahari terbit, ketika tengah hari, dan ketika matahari terbenam. Waktu yang tersebut akhir tampaknya diperuntukkan bagi roh orang yang telah meninggal dunia.  Zoroaster tampaknya memberikan dua tambahan lagi, sehingga dia mewajibkan kepada para pengikutnya untuk beribadat lima kali sehari. Tambahan pertama adalah waktu setengah siang seperti waktu Ashar dalam agama Islam, yaitu pertengahan antara tengah hari dan waktu matahari terbenam.
Tambahan baru lainnya adalah waktu tengah malam yang tenggang waktunya sampai saat matahari terbit. Doa ini dipersembahkan kepada Sraosha, Tuhannya doa. Selama waktu itu, ketika kekuatan kegelapan berada pada puncak yang paling kuat dan mencari-cari mangsa para pengikut Zoroaster harus bangun, mengisi minyak dan dupa pada tungku api dan memperkuat dunia kebaikan dengan doa-doa mereka.
Bentuk dan isi sembahyang yang dikenal dari praktek yang ada adalah sebagai berikut: pertama, orang yang melaksanakan sembahyang mempersiapkan diri dengan mencuci wajah, tangan, dan kaki dari kotoran debu; kemudian melepas tali kawat suci dan berdiri dengan tali dipegang dengan kedua tangannya di mukanya, tegak lurus di hadapan penciptanya, matanya menatap simbol kebajikan, api. Kemudian dia berdoa kepada Ahura Mazda, mengutuk Ahriman dengan memukul-mukul kawat dengan penghinaan, memasang tali kawat lagi sambil berdoa. Keseluruhan pelaksanaan hanya memakan waktu lima menit, tetapi pengulangan secara teratur merupakan ibadah yang bernilai tinggi yang merupakan suatu disiplin yang terus menerus serta suatu pengakuan yang teratur terhadap ajaran-ajaran dasar keimanan.
Di samping kewajiban individu di atas, para pengikut Zoroaster masih memiliki kewajiban bersama yaitu merayakan tujuh macam peringatan hari besar tahunan. Waktu peringatan berbeda-beda: ada yang pertengahan musim semi, ada yang pertengahan musim panas, dan ada yang pertengahan musim dingin. Perayaan ini dirayakan dengan menghadiri upacara agama di pagi hari dan kemudian berkumpul bersama di dalam kegembiraan dengan pesta makan bersama.
Upacara-upacara khusus bagi kelahiran, menginjak usia pubertas, perkawinan, dan kematian juga diajarkan di dalam agama Zoroaster.[6]

Ø  Pengadilan Saat Kematian
  Neraka di dalam agama Zoroaster bukan merupakan tempat penyiksaan abadi. Neraka hanya bersifat sementara dan merupakan tempat penyucian dari noda-noda dosa. Agama Zoroaster memberikan penjelasan bahwa Tuhan adalah kawan manusia dan Dia tidak pernah membuat manusia menderita. Semua kejelekan dan semua penderitaan berasal dari Ahriman.
Ø    Hari Kebangkitan
. Tuhan tidak mengutuk makhlukNya dengan siksaan abadi karena dosa-dosanya bagaimanapun besarnya. Semua dosa akan dihukum dengan setimpal di dalam neraka yang bersifat sementara. Neraka adalah tempat tinggal Ahriman dan Syaitan-syaitan. Tuhan melunakkan keadilan dengan rasa belas kasihan. Dia tidak mempunyai sifat yang kejam dan sama sekali tidak bisa murka.









[